Untuk mengetahui karakteristik item yang baik dalam suatu penelitian, maka dilakukanlah proses analisis terhadap item. Analisis item merupakan prosedur statistika yang digunakan untuk membantu membuat keputusan tentang item-item mana yang baik, dan mana item yang perlu direvisi serta mana item yang harus dibuang. Menurut Azwar (2009), analisis item merupakan proses pengujian parameter item (daya beda dan tingkat kesulitan item) dengan tujuan untuk mengetahui apakah item memenuhi persyaratan psikometris yang kemudian digunakan sebagai bagian dari tes. Lebih lanjut lagi, Azwar (2009) juga menjelaskan bahwa hasil analisis item menjadi dasar dalam seleksi item, di mana item-item yang tidak memenuhi syarat psikometris akan direvisi terlebih dahulu.
Teknik untuk melakukan analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar analisis kualitatif dilakukan terkait dengan validitas isi dan prosedur penulisan yang baik, sedangkan analisis kuantitatif terkait dengan pengukuran tingkat kesulitan item dan daya beda. Menurut Guilford & Frutcher (dalam Huang, 2013), tujuan melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur. Berikut merupakan suatu bentuk analisa review konstrak, analisa kualitatif, dan analisa kuantitatif dalam jurnal pengembangan alat ukur motivasi membaca pada remaja (oleh Felicia, Mularsih, H., & Tiatri, S., 2017):
A. Analisa Review Konstrak
1. Review Komponen
Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017), memberi pengertian
motivasi membaca sebagai suatu antusias dalam mendorong untuk melakukan
aktivitas membaca. Dari definisi operasional tersebut, terdapat 7 komponen
motivasi membaca, yaitu sebagai berikut:
Tabel 1.1 Komponen Konstrak Motivasi Membaca
|
Konstrak |
Komponen |
|
Motivasi Membaca |
Rasa Ingin Tahu |
|
Keterlibatan |
|
|
Nilai Akademik |
|
|
Kompetisi |
|
|
Pengakuan Sosial |
|
|
Regulasi Emosi |
|
|
Bebas dari Kebosanan |
*Sumber: Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017).
2. Review Indikator Perilaku
Selanjutnya, dari komponen-komponen tersebut diturunkan menjadi indikator perilaku sebagai berikut:
Tabel 1.2 Indikator Perilaku Komponen Motivasi Membaca
|
No. |
Komponen |
Indikator Perilaku |
|
1 |
Rasa Ingin Tahu |
Merasa tertarik pada topik bacaan yang diminati dan dapat mempelajari lebih lanjut |
|
2 |
Keterlibatan |
Dapat mengalami perasaan yang positif (seperti tenggelam dalam cerita atau mengalami tindakan imajinatif) |
|
3 |
Nilai Akademik |
Dapat meningkatkan nilai akademik atau prestasi di sekolah |
|
4 |
Kompetisi |
Dapat mengungguli teman sekelas di sekolah (dalam pemahaman materi) |
|
5 |
Pengakuan Sosial |
Mendapatkan pujian karena sering membaca |
|
6 |
Regulasi Emosi |
Mampu mengatasi emosi negatif seperti amarah atau kesedihan |
|
7 |
Bebas dari Kebosanan |
Dapat mengatasi kebosanan dan mengisi waktu karena aktivitas yang lebih diinginkan tidak tersedia. |
*Sumber: Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017).
3. Review Item
Kemudian Felicia, dkk. (2017) juga melampirkan contoh
butir kuesioner motivasi
membaca pada remaja. Yaitu berupa item-item pernyataan yang berpedoman
pada indikator perilaku yang telah dibuat. Item tersebut telah dilakukan revisi
yang kemudian menghasilkan item final dalam bentuk butir kuesioner positif dan negatif.
Tabel 1.3 Item-item Indikator Perilaku Motivasi Membaca
|
Indikator Perilaku |
Item (Butir Kuesioner) |
Positif |
Negatif |
|
Rasa Ingin Tahu |
(1) Saya bersemangat membaca agar saya memperoleh pemahaman tentang topik tertentu. |
v |
|
|
(23) Saya tidak bersemangat membaca meskipun topik bacaan tersebut menarik. |
|
v |
|
|
Keterlibatan |
(2) Saya bersemangat membaca agar saya dapat berimajinasi tentang bacaan tersebut. |
v |
|
|
(24) Saya tidak bersemangat membaca padahal saya tahu akan mendapatkan gambaran cerita lebih utuh dengan membaca. |
|
v |
|
|
Nilai Akademik |
(3) Saya bersemangat membaca karena ingin memperoleh nilai pelajaran yang lebih baik di sekolah. |
v |
|
|
(25) Saya tidak bersemangat membaca meskipun membaca dapat meningkatkan prestasi saya. |
|
v |
|
|
Kompetisi |
(4) Saya bersemangat membaca agar saya lebih mudah mengerti isi bacaan dibandingkan dengan teman-teman sekolah saya. |
v |
|
|
(26) Saya tidak bersemangat membaca padahal saya tahu pengetahuan saya akan bertambah karena membaca dibandingkan dengan teman-teman sekolah saya. |
|
v |
|
|
Pengakuan Sosial |
(12) Saya bersemangat membaca agar orang lain berpikir bahwa saya rajin membaca. |
v |
|
|
(34) Saya tidak bersemangat membaca walaupun teman-teman saya sering membaca. |
|
v |
|
|
Regulasi Emosi |
(6) Saya bersemangat membaca agar saya dapat mengatasi kegelisahan saya. |
v |
|
|
(28) Saya tidak bersemangat membaca padahal membaca dapat membantu saya mengatasi kesedihan saya. |
|
v |
|
|
Bebas dari Kebosanan |
(7) Saya bersemangat membaca agar dapat mengisi waktu kosong. |
v |
|
|
(29) Saya tidak bersemangat membaca karena saya tetap bosan dengan membaca. |
|
v |
*Sumber: Felicia, dkk. (2017).
B. Analisa Kualitatif
Penelitian dalam jurnal Felicia, dkk. (2017) dianalisa secara kualitatif oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan dengan alat ukur tersebut. Aspek yang dievaluasi secara kualitatif dari item-item yaitu sebagai berikut:
1. Analisis Ahli Konstrak
Felicia, dkk. (2017) meminta penilaian oleh ahli (expert judgment), yaitu dari tiga orang dosen Psikologi Pendidikan Universitas Tarumanagara Jakarta yang sering berkecimpung dalam bidang membaca. Hasil dari penilaian ahli menunjukkan ada 28 butir dari 37 butir yang dianggap sudah mengukur hal yang diukur oleh tiga ahli. Berdasarkan penilaian ahli tersebut, peneliti mendapatkan masukan untuk melakukan revisi butir serta menambahkan butir-butir negatif dalam alat ukur motivasi membaca pada remaja. Selain itu, dosen-dosen memberikan masukan bahwa butir-butir alat ukur perlu disusun dengan lebih bervariasi baik dalam konten maupun pemilihan kata-kata. Namun, peneliti diingatkan untuk tetap konsisten dalam menyusun butir-butir agar mengukur dimensi yang dituju.
2. Analisis Ahli Psikometri
Felicia, dkk. (2017) tidak meminta tanggapan tentang properti psikometri yang digunakan pada ahli psikologi yang melakukan konstruksi alat ukur tersebut. Namun, peneliti sudah mengikuti saran dari penelitian sebelumnya dan telah mendapat penilaian dari tiga dosen psikologi yang sering melakukan penelitian dibidang membaca.
3. Analisis Tata Bahasa
Felicia, dkk. (2017) meminta seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang fasih berbahasa Inggris (lulusan doktoral dari universitas di Amerika) untuk menerjemahkan kembali kuesioner tersebut ke dalam bahasa Inggris. Hasil terjemahan bahasa Inggris tersebut dicocokkan dengan butir kuesioner asli, mengalami revisi satu kali, lalu diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris. Setelah itu, hasilnya dicocokkan kembali dengan butir kuesioner asli. Tingkat kecocokkannya tinggi (97,2% dari butir hasil back translation memiliki makna yang sama dengan butir asli kuesioner dalam bahasa Inggris).
4. Analisis Oleh Subjek
Felicia, dkk. (2017) kemudian menguji validitas muka kuesioner dalam bahasa Indonesia yang telah lolos dalam tahap back to back translation. Uji validitas muka kuesioner ini dilakukan kepada 3 orang siswa SMA X. Peneliti mendapat masukan mengenai pemilihan kata yang sesuai dengan pengetahuan mereka sebagai perwakilan remaja. Selain itu, mereka memberi ide bagi peneliti untuk menyusun kuesioner menjadi lebih mudah dibaca dan dimengerti.
C. Analisa Kuantitatif
Setelah analisa kualitatif dan uji coba dilaksanakan, selanjutnya adalah analisa kuantitatif item-item tersebut. Pada penelitian Felicia, dkk. (2017), indeks diskriminasi item dilakukan dengan model korelasi item dengan skor total. Hasil analisis dengan 74 sampel menunjukkan bahwa tingkat reliabilitas dari alat ukur motivasi membaca pada remaja tergolong baik (Cronbach’s Alpha = 0,881). Standar reliabilitas yang digunakan adalah 0,7 (oleh Gliem & Gliem dalam Felicia, dkk., 2017).
Berdasarkan tabel Pearson r dalam Felicia, dkk. (2017), r tabel untuk jumlah sampel 74 orang adalah 0,235. Sementara itu, hasil uji validitas konstruk yang dilihat dari korelasi butir-total menunjukkan terdapat 37 butir yang valid (r < r tabel = 0,235, p < 0,05). Butir yang dibuang berdasarkan uji validitas konstruk ini adalah nomor 3, 5, 12, 17, 28, dan 35. Berikut meupakan tabel 3.1 yang menunjukkan hasil uji reliabilitas pada penelitian tersebut:
Tabel 3.1 Hasil Uji Reliabilitas (37 Butir)
|
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
|
1 |
0,238* |
14 |
0,364* |
27 |
0,398* |
|
2 |
0,438* |
15 |
0,337* |
28 |
-0,306 |
|
3 |
0,230 |
16 |
0,359* |
29 |
0,608* |
|
4 |
0,494* |
17 |
0,355* |
30 |
0,470* |
|
5 |
0,102 |
18 |
0,590* |
31 |
0,642* |
|
6 |
0,380* |
19 |
0,360* |
32 |
0,397* |
|
7 |
0,446* |
20 |
0,348* |
33 |
0,397* |
|
8 |
0,340* |
21 |
0,443* |
34 |
0,568* |
|
9 |
0,426* |
22 |
0,685* |
35 |
0,206 |
|
10 |
0,369* |
23 |
0,278* |
36 |
0,630* |
|
11 |
0,294* |
24 |
0,352* |
37 |
0,510* |
|
12 |
0,171 |
25 |
0,485* |
||
|
13 |
0,477* |
26 |
0,377* |
*Sumber: Felicia, dkk. (2017).
Setelah membuang butir yang tidak valid, peneliti melakukan uji reliabilitas dan validitas kembali. Hasilnya menyatakan bahwa terdapat 32 butir yang ada valid dan reliabel (Cronbach’s Alpha= 0,897). Tabel 3.2 menunjukkan hasil uji reliabilitas dengan 32 butir.
Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas (32 Butir)
|
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
No. Butir |
Korelasi Butir-Total Dikoreksi |
|
1 |
0,242* |
15 |
0,314* |
26 |
0,363* |
|
2 |
0,446* |
16 |
0,386* |
27 |
0,423* |
|
4 |
0,451* |
17 |
0,204 |
29 |
0,629* |
|
6 |
0,377* |
18 |
0,624* |
30 |
0,480* |
|
7 |
0,481* |
19 |
0,355* |
31 |
0,652* |
|
8 |
0,351* |
20 |
0,315* |
32 |
0,395* |
|
9 |
0,437* |
21 |
0,461* |
33 |
0,396* |
|
10 |
0,337* |
22 |
0,692* |
34 |
0,579* |
|
11 |
0,247* |
23 |
0,318* |
36 |
0,649* |
|
13 |
0,480* |
24 |
0,373* |
37 |
0,537* |
|
14 |
0,383* |
25 |
0,478* |
|
|
* *Sumber: Felicia, dkk. (2017).
Kemudian untuk hasil akhirnya, pada tabel 3.3 menunjukkan blueprint kisi-kisi alat ukur motivasi membaca pada remaja yang sudah valid secara konten dan konstruk serta layak untuk digunakan dalam penelitian-penelitian.
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Kuesioner Motivasi Membaca pada Remaja yang Sudah Valid
|
Dimensi |
Butir Alat Ukur |
Total |
|
|
|
Positif |
Negatif |
|
|
Rasa Ingin Tahu |
1, 8, 15, 20 |
23, 30 |
6 |
|
Keterlibatan |
2, 9, 16, 21 |
24, 31 |
6 |
|
Nilai Akademik |
10 |
25, 32 |
3 |
|
Kompetisi |
4, 11 |
26, 33 |
4 |
|
Pengakuan Sosial |
- |
27, 34, 37 |
3 |
|
Regulasi Emosi |
6, 13, 18, 22 |
- |
4 |
|
Bebas dari Kebosanan |
7, 14, 19 |
29, 36 |
5 |
|
Total Butir |
18 |
13 |
31 |
*Sumber: Felicia, dkk. (2017).
SUMBER REFERENSI
Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan Validitas. Cetakan IX. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Felicia, Mularsih, H., & Tiatri, S. (2017). Pengembangan alat ukur motivasi membaca pada remaja. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni. 1(2). 248-258. https://journal.untar.ac.id/index.php/jmishumsen/article/download/973/922. Diakses pada 9 April 2020. 20:01 WIB.
Huang, H. (2013). Analisis Item. Artikel Online. Homepages. https://www.globalstatistik.com/analisis-item/. Diakses pada 9 April 2020. 20:30 WIB.