Translate This Page

Minggu, 21 Juni 2020

VALIDITAS

Untuk membuktikan keberadaan atribut psikologi, diperlukan suatu pengukuran yang tepat. Pengukuran yang tepat akan menghasilkan skor yang valid. Messick (dalam Ridho, 2013) menulis bahwa validitas adalah ringkasan evaluatif baik dalam bentuk bukti atau konsekuensi interpretasi dan penggunaan skor hasil tes. Jadi, validitas melekat pada skor hasil ukur, bukan pada alat ukur. Alat tes hanya sebagai sarana, setelah berinteraksi dengan partisipan, yang kemudian akan menghasilkan skor valid.

Sedangkan menurut Supratiknya (2014), validitas dijelaskan sebagai kualitas esensial yang menunjukkan sejauh mana suatu tes benar-benar mengukur alat tes psikologis yang akan diukurnya (yaitu tentang ketepatan dan kecermatan alat ukur untuk fungsi ukurnya). Dikutip dari buku milik Periantalo (2015), validitas dalam pengujian alat ukur psikologis secara umum dibagi menjadi 3 jenis. Yaitu validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria. Uraian beserta contoh masing-masing validitas akan dipaparkan sebagai berikut:

 

1.     Validitas Isi (Content Validity)

Dalam Ihsan (2016), validitas isi digambarkan sebagai penjelasan tentang suatu alat ukur secara substantif atau bisa juga disebut validitas substantif yang berfokus pada konseptualisasi dan sejauh mana konsep-konsep sebelumnya yang ditampilkan dalam kajian literatur. Validitas isi sangat penting posisinya untuk pengujian validitas konstruk. Alat ukur yang tidak valid secara isi maka tidak perlu lagi diuji kevalidannya dengan metode validitas konstruk. Jadi alat ukur yang valid harus pernah diuji kevalidannya melalui uji validasi isi sebelum ke uji validasi yang lainnya. Dengan demikian, semua alat ukur wajib memiliki validasi isi (Periantalo (2015). Validasi isi lebih menitikberatkan kepada validasi rasional atau logis sementara validasi yang lainnya lebih ke validasi empiris. Untuk contoh validasi isi, diambil dari penelitian Zega (2018) yang melakukan uji validasi konstruksi alat ukur kesabaran.

Validasi skala penelitian tersebut didasarkan pada bukti isi yang dilakukan dengan professional judgement oleh validator. Validator kemudian diminta untuk merating aitem-aitem yang di muat dalam skala dari angka 1 sampai 5. Adapun jumlah validator yang digunakan berjumlah 2 orang. Hasil penilain dari setiap validator kemudian dihitung dengan menggunakan rumus Aiken’s V. Sebuah aitem dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila memiliki koefisien validitas lebih dari 0,80, validitas aitem dikatakan sedang apabila memiliki koefisien validitas antara 0,40-0,80 dan validitas aitem dikatakan rendah apabila memiliki koefisien validitas kurang dari 0,40 (Retnawati dala Zega, 2018).

Berdasarkan hasil uji validitas isi yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa secara umum validitas isi yang diperoleh setiap aitem berada pada kategori tinggi, yaitu 79% (45 aitem). Meskipun terdapat beberapa aitem yang berada pada ketegori sedang, yaitu 21% (12 aitem). Hasil tersebut menunjukkan bahawa aitem-aitem yang dimuat dalam skala mampu mewakili aspek-aspek dan indikator perilaku yang digunakan dalam membangun skala kesabaran dan juga mampu mencerminkan konstrak yang akan diukur.

 

2.     Validitas Konstrak (Constract Validity)

Validitas konstrak (constract validity) adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh butir-butir tes mampu mengukur apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan (Matondang, 2009). Validitas konstrak biasa digunakan untuk alat ukur yang dimaksudkan mengukur variabel konsep, baik yang sifatnya performansi tipikal seperti alat ukur untuk mengukur sikap, minat konsep diri, lokus kontrol, gaya kepemimpinan, motivasi berprestasi, dan lain-lain, maupun yang sifatnya performansi maksimum seperti alat ukur untuk mengukur bakat (tes bakat), inteligansi (kecerdasan intelektual), kecerdasan, emosional dan lain-lain.

Selanjutnya dari penelitian Periantalo (2017), validitas konstrak didapat melalui validitas konvergen, divergen, diskriminan dan kelompok. Validitas konvergen diuji antara minat psikis dengan minat ilmu sosial humaniora.Kedua konstrak ini berkorelasi positif karena merupakan hal yang saling berhubungan. Validitas divergen didapat dengan uji korelasi minat psikis dengan minat ilmu alam. Kedua konstrak tersebut merupakan hal yang berlawanan, hasil korelasi idealnya menunjukkan korelasi negatif. Validitas diskriminan didapat melalui uji korelasi minat psikis dengan TPA. Kedua konstrak tersebut tidak berhubungan dengan idealnya tidak berkorelasi. Validitas kelompok didapatkan melalui nilai rata-rata minat terhadap psikis pada mahasiswa Psikologi/Bimbingan Konseling dengan mahasiswa Ilmu Kesehatan. Dibawah ini akan diuraikan untuk masing-masing validitas konstraknya.

 

A.    Validitas Konvergen

Uji validitas konvergen dilakukan antara kelompok minat psikis dengan kelompok minat sosial humaniora. Kelompok minat psikis merupakan bagian dari kelompok minat sosial humaniora. Kedua jenis variabel mengungkap hal yang relatif sama,hasil uji korelasi harus menunjukkan adanya korelasi positif antara kedua variabel ini. Tinggi skor suatu variabel menunjukkan tingginya skor pada variabel yang lain,rendahnya skor suatu variabel menunjukkan rendahnya skor pada variabel yang lain.

Uji korelasi antara kedua variabel tersebut melibatkan sebanyak 388 subjek dengan koefiisen korelasi rxy 0,453 dengan nilai signifikansi 0,000.Uji korelasi menunjukan adanya korelasi positif sedang antara kelompok minat bidang psikis dengan kelompok minat sosial humaniora. Subjek yang memiliki skor yang tinggi pada bidang psikis, dan memiliki skor yang tinggi pula pada sosial humaniora. Subjek yang memiliki skor yang rendah pada bidang psikis, ia memiliki skor yang rendah pula pada bidang sosial humaniora. Data tersebut memberikan dukungan terhadap validitas konvergen Tes Minat Indonesia melalui kelompok bidang psikis.

 

B.     Validitas Divergen

Uji validitas divergen dilakukan antara minat bidang psikis dengan kelompok minat sains teknologi.Bidang psikis merupakan kelompok minat sosial humaniora, sementara minat sains teknologi merupakan lawan dari kelompok minat sosial humaniora.Jika kedua variabel tersebut diuji korelasi idealnya menghasilkan korelasi negatif. Besarnya nilai suatu variabel menunjukkan rendahnya variabel yang lain,rendahnya suatu variabel menunjukkan tinggi variabel yang lain.

Uji korelasi menunjukkan adanya korelasi negatif sedang antara minat bidang psikis dengan minat bidang sains teknologi.Uji tersebut dengan melihatbakn 388 subjek, dengan koefisien korelasi sebesar rxy -0,450 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000.Bidang minat sains teknologi seperti: medis, elektrik, pertambangan, planologi, kehutanan. Subjek yang memiliki minat yang tinggi pada bidang psikis, ia memiliki ilmu sains teknologi yang rendah. Subjek yang memiliki minat yang rendah pada bidang psikis, ia memiliki minat sains teknologi yang tinggi. Apa yang telah diasumsikan terbukti bahwa kedua variabel tersebut menghasilkan korelasi negatif.

 

C.    Validitas Diksriminan

Uji validitas diksriminan dilakukan antara minat bidang psikis dengan Tes Potensi Akademik.Minat dan tes potensi merupakan hal yang berbeda.Minat merupakan komponen afektif, sementara tes potensi merupakan komponen kognitif.Begitu juga dengan komponen yang membentuk kedua konstrak tersebut.Jika kedua variabel atau konstrak tersebut dikorelasikan, hasil korelasi menunjukkan tidak adanya korelasi.

Uji korelasi menghasilkan koefisien korelasi sebesar -0,032 dengan nilai signifikansi ditetapkan sebesar 0,01 serta melibatkan 102 subjek. Kedua variabel tersebut tidak berkolerasi karena di atas standar yang ditetapkan.Uji validitas menunjukkan tidak adanya korelasi antara minat bidang psikis dengan tes potensi akademik.Tinggi-rendahnya minat siswa pada bidang psikis tidak dapat ditentukan melalui hasil Tes Potensi Akademiknya.Begitu juga sebaliknya, tinggi-rendahnya nilai TPA seseorang, tidak dapat diketahui apakah minat psikis rendah, sedang atau tinggi.Apa yang dihipotesiskan terbukti bahwa tidak hubungan di antara dua konstrak tersebut.

 

D.    Validitas Kelompok

Validitas kelompok mengkonfirmasi alat ukur dengan kelompok tertentu.Kelompok yang idealnya memiliki karakteristik tertentu dapat dibuktikan melalui alat ukur.Kelompok tersebut memiliki skor yang tinggi dengan kelompok yang tidak/kurang memiliki karakteristik tersebut.Uji validitas kelompok dilakukan kepada mahasiswa Psikologi dan Bimbingan Konseling.Dua jurusan ini mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan psikis. Sebagai pembanding, kelompok jurusan ilmu ilmu kesehatan, yaitu: Pendidikan Dokter, Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Data menunjukkan bahwa mahasiswa kelompok Psikis memiliki minat yang lebih tinggi pada ilmu psikis dari mahasiswa ilmu kesehatan. Mahasiswa ilmu Psikis memiliki skor sebesar M=9,33; mahasiswa kesehatan sebesar M=6,13.Bila dilihat dengan uji t independent sample didapat nilai t sebesar 3,968 dan signifikansi sebesar 0,000.Nilai signifikansi tersebut dibawah standar yang ditetapkan sehingga berbeda kedua kelompok tersebut.Apa yang dihipotesikan terbukti bahwa mahasiswa kelompok ilmu psikis memiliki minat yang tinggi dari kelompok ilmu kesehatan.

 

3.      Validitas Kriteria (Criterion-Related Validity)

Validitas kriteria atau validitas empiris merupakan validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria. Menurut Matondang (2009), validitas ktiteria diperoleh melalui hasil uji coba tes kepada responden yang setara dengan responden yang akan dievaluasi atau diteliti. Ada 2 jenis validitas kriteria yang berdasarkan tujuan tes, yaitu validitas konkuren dan validitas prediktif (Periantalo, 2015). Azwar (2009) menjelaskan validitas konkuren dilakukan untuk mengetahui keadaan individu saat ini (diagnosis). Sedangkan validitas prediktif untuk memprediksi performa/tingkah laku individu di masa depan (pronogsis). Namun, dalam penelitian yang ditemukan berikut ini hanya memberikan contoh validitas kriteria konkuren yang dikutip dari Periantalo & Raudhoh (2017).

Periantalo & Raudhoh (2017) melakukan penilaian tes TPA (Tes Potensi Akademik) berdasarkan kriteria dan penilaian berdasarkan norma. Penilaian berdasarkan kriteria dimana skor tertentu sudah ditetapkan secara bersama oleh pihak terkait. Setiap sekolah mungkin memiliki standar penilaian kriteria yang berbeda atas KKM tersebut. Sekolah unggulan, biasa dan pinggiran menerapkan standar yang tidak sama. Penilaian tidak menggunakan data empirik, dan tidak menggunakan analisis statistik. Penilaian kedua berkaitan dengan norma yang didasarkan atas skor subjek dan membentuk kurva norma. Norma sendiri dibagi menjadi dua, yaitu: hipotetik dan empirik.

TPA yang diujikan merupakan hasil penelitian yang dilakukan Periantalo (2013), yaitu konstruksi terhadap TPA Universitas Jambi. TPA tersebut merupakan TPA yang seperti digunakan dalam kehidupan sehari-hari. TPA terdiri dari tiga komponen, yaitu: verbal, kuantitatif dan abstrak. TPA tersebut didukung oleh validitas konstrak, validitas kriteria konkuren dan reliabilitas yang memuaskan. 

 

Validitas Kriteria Konkuren

Pada penelitian Periantalo & Raudhoh (2017), uji korelasi menghasilkan hasil korelasi positif sedang diantara ketiga komponen TPA tersebut (0,4-0,6). Semakin tinggi skor subjek pada komponen verbal, semakin tinggi pula skor subjek pada komponen kuantitatif dan abstrak. Semakin rendah skor subjek pada komponen verbal, semakin rendah pula skor subjek pada komponen kuantitatif dan abstrak. Korelasi positif sedang adalah korelasi positif yang bagus karena ketiga komponen tersebut memiliki hubungan, tetapi hubungan tersebut lemah.

Dengan demikian TPA didukung oleh validitas konvergen. Standard Progressive Matrices (SPM) – menjadi kriteria dalam uji validitas konkuren karena SPM merupakan alat ukur kognitif potensial yang sudah terstandarisasi. TPA maupun SPM merupakan alat ukur kognitif potensial yang idealnya mereka satu sama lain memiliki hubungan positif.

Hasil uji korelasi: koefisien korelasi sebesar 0,638. Semakin tinggi skor subjek pada TPA, semakin tinggi pula skor subjek pada SPM. Semakin rendah skor subjek pada TPA, semakin rendah pula skor subjek pada SPM. Koefisien determinasi dari alat ukur tersebut sebesar 0,406 menunjukkan kemampuan TPA dalam menjelaskan SPM sebesar 40% - begitu juga sebaliknya.


 

KESIMPULAN


Untuk mengetahui seberapa baik alat ukur itu dalam penilaian maka nilai-nilai yang diberikan oleh penilai harus diolah lagi menjadi sebuah angka yang menunjukkan tingkat validitas alat ukur. Jika hasil penilaian masuk dalam kategori sangat tidak valid sampai kurang valid maka jangan digunakan alat ukur itu untuk penelitian. Alat ukur ini harus diperbaiki oleh penyusun sehingga memperoleh penilaian yang lebih baik dari penilai. Jika dalam perbaikan alat ukur sudah mendapatkan nilai cukup valid dan valid maka alat ukur itu sudah bisa digunakan penelitian. Untuk alat ukur yang masuk kategori cukup valid, sekalipun sudah bisa digunakan tetapi perlu perbaikan-perbaikan lagi jika digunakan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

Valid tidaknya suatu alat ukur dapat diuji dengan beberapa jenis validitas, yaitu validitas isi yang mempermasalahkan sejauh mana suatu tes mengukur tingkat penguasaan terhadap isi atau materi tertentu yang seharusnya dikuasai sesuai dengan tujuan pengajaran dan validitas isi tidak mempunyai besaran. Validitas konstruk mempermasalahkan seberapa jauh butir-butir tes mampu mengukur apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan definisi konseptual yang telah ditetapkan. Serta validitas kriteria yang berarti bahwa validitas ditentukan berdasarkan kriteria, baik kriteria konkuren maupun kriteria prediktif.

 

 

SUMBER REFERENSI

 

Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan Validitas. Cetakan IX. 173-175. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2013). Penyusunan Skala Psikologi. Ed. 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ihsan, H. (2016). Validitas isi alat ukur penelitian konsep dan panduan penilaiannya. Pedagogia: Jurnal Ilmu Pendidikan. 266-273. https://ejournal.upi.edu/index.php/pedagogia/article/download/3557/2536. Diakses pada 15 April 2020. 05:31 WIB.

Matondang, Z. (2009). Validitas dan reliabilitas suatu instrumen penelitian. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED. 6(1). 87-97. http://digilib.unimed.ac.id/705/1/Validitas%20dan%20reliabilitas%20suatu%20instrumen%20penelitian.pdf. Diakses pada 16 April 2020. 20:57 WIB.

Periantalo, J. (2015). Penyusunan Skala Psikologi: Asyik, Mudah Dan Bermanfaat. 104-140. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Periantalo, J. (2017). Uji validitas konstrak tes minat indonesia melalui aspek minat psikis. Psycho Idea. No. 1. 9-17. http://www.jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/PSYCHOIDEA/article/view/2234/1737. Diakses pada 16 April 2020. 20:28 WIB.

Periantalo, J., & Raudhoh, S. (2017). Norma empirik tes potensi akademik (tpa) universitas jambi untuk kelompok mahasiswa. Jurnal Psikologi Jambi. 2(2). 10-17. https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/download/4791/3300. Diakses pada 16 April 21:19 WIB.

Ridho, A. (2013). Prinsip-prinsip Pengembangan Instrumen Penelitian. Makalah Kuliah Umum. 6-8. Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang. http://repository.uin-malang.ac.id/1856/2/1856.pdf. Diakses pada 16 Maret 2020. 04:29 WIB.

Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Cetakan Pertama. 121-125. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. https://repository.usd.ac.id/12882/1/2014%20Pengukuran%20Psikologis.pdf. Diakses pada 14 April 2020. 22:49 WIB.

Zega, Z. S. (2018). Konstruksi Alat Ukur Kesabaran. Skripsi. 63-69. Fakultas Psikologi Universitas Sumatra Utara. http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/10306/141301004.pdf?sequence=1&isAllowed=y. Diakses pada 15 April 2020. 21:33 WIB.

Kamis, 28 Mei 2020

ANALISIS ITEM

Untuk mengetahui karakteristik item yang baik dalam suatu penelitian, maka dilakukanlah proses analisis terhadap item. Analisis item merupakan prosedur statistika yang digunakan untuk membantu membuat keputusan tentang item-item mana yang baik, dan mana item yang perlu direvisi serta mana item yang harus dibuang. Menurut Azwar (2009), analisis item merupakan proses pengujian parameter item (daya beda dan tingkat kesulitan item) dengan tujuan untuk mengetahui apakah item memenuhi persyaratan psikometris yang kemudian digunakan sebagai bagian dari tes. Lebih lanjut lagi, Azwar (2009) juga menjelaskan bahwa hasil analisis item menjadi dasar dalam seleksi item, di mana item-item yang tidak memenuhi syarat psikometris akan direvisi terlebih dahulu.

Teknik untuk melakukan analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar analisis kualitatif dilakukan terkait dengan validitas isi dan prosedur penulisan yang baik, sedangkan analisis kuantitatif terkait dengan pengukuran tingkat kesulitan item dan daya beda. Menurut Guilford & Frutcher (dalam Huang, 2013), tujuan melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur. Berikut merupakan suatu bentuk analisa review konstrak, analisa kualitatif, dan analisa kuantitatif dalam jurnal pengembangan alat ukur motivasi membaca pada remaja (oleh Felicia, Mularsih, H., & Tiatri, S., 2017):

 

A.    Analisa Review Konstrak

1.      Review Komponen

Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017), memberi pengertian motivasi membaca sebagai suatu antusias dalam mendorong untuk melakukan aktivitas membaca. Dari definisi operasional tersebut, terdapat 7 komponen motivasi membaca, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1   Komponen Konstrak Motivasi Membaca

Konstrak

Komponen

Motivasi Membaca

Rasa Ingin Tahu

Keterlibatan

Nilai Akademik

Kompetisi

Pengakuan Sosial

Regulasi Emosi

Bebas dari Kebosanan

     *Sumber: Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017).

2.      Review Indikator Perilaku

Selanjutnya, dari komponen-komponen tersebut diturunkan menjadi indikator perilaku sebagai berikut:

Tabel 1.2   Indikator Perilaku Komponen Motivasi Membaca

No.

Komponen

Indikator Perilaku

1

Rasa Ingin Tahu

Merasa tertarik pada topik bacaan yang diminati dan dapat mempelajari lebih lanjut

2

Keterlibatan

Dapat mengalami perasaan yang positif (seperti tenggelam dalam cerita atau mengalami tindakan imajinatif)

3

Nilai Akademik

Dapat meningkatkan nilai akademik atau prestasi di sekolah

4

Kompetisi

Dapat mengungguli teman sekelas di sekolah (dalam pemahaman materi)

5

Pengakuan Sosial

Mendapatkan pujian karena sering membaca

6

Regulasi Emosi

Mampu mengatasi emosi negatif seperti amarah atau kesedihan

7

Bebas dari Kebosanan

Dapat mengatasi kebosanan dan mengisi waktu karena aktivitas yang lebih diinginkan tidak tersedia.

                        *Sumber: Schiefele & Schaffner (dalam Felicia, dkk., 2017).

3.      Review Item

Kemudian Felicia, dkk. (2017) juga melampirkan contoh butir kuesioner motivasi membaca pada remaja. Yaitu berupa item-item pernyataan yang berpedoman pada indikator perilaku yang telah dibuat. Item tersebut telah dilakukan revisi yang kemudian menghasilkan item final dalam bentuk butir kuesioner positif dan negatif.

Tabel 1.3   Item-item Indikator Perilaku Motivasi Membaca

Indikator Perilaku

Item (Butir Kuesioner)

Positif

Negatif

Rasa Ingin Tahu

(1) Saya bersemangat membaca agar saya memperoleh pemahaman tentang topik tertentu.

v

 

(23) Saya tidak bersemangat membaca meskipun topik bacaan tersebut menarik.

 

v

Keterlibatan

(2) Saya bersemangat membaca agar saya dapat berimajinasi tentang bacaan tersebut.

v

 

(24) Saya tidak bersemangat membaca padahal saya tahu akan mendapatkan gambaran cerita lebih utuh dengan membaca.

 

v

Nilai Akademik

(3) Saya bersemangat membaca karena ingin memperoleh nilai pelajaran yang lebih baik di sekolah.

v

 

(25) Saya tidak bersemangat membaca meskipun membaca dapat meningkatkan prestasi saya.

 

v

Kompetisi

(4) Saya bersemangat membaca agar saya lebih mudah mengerti isi bacaan dibandingkan dengan teman-teman sekolah saya.

v

 

(26) Saya tidak bersemangat membaca padahal saya tahu pengetahuan saya akan bertambah karena membaca dibandingkan dengan teman-teman sekolah saya.

 

v

Pengakuan Sosial

(12) Saya bersemangat membaca agar orang lain berpikir bahwa saya rajin membaca.

v

 

(34) Saya tidak bersemangat membaca walaupun teman-teman saya sering membaca.

 

v

Regulasi Emosi

(6) Saya bersemangat membaca agar saya dapat mengatasi kegelisahan saya.

v

 

(28) Saya tidak bersemangat membaca padahal membaca dapat membantu saya mengatasi kesedihan saya.

 

v

Bebas dari Kebosanan

(7) Saya bersemangat membaca agar dapat mengisi waktu kosong.

v

 

(29) Saya tidak bersemangat membaca karena saya tetap bosan dengan membaca.

 

v

            *Sumber: Felicia, dkk. (2017).

 

B.     Analisa Kualitatif

Penelitian dalam jurnal Felicia, dkk. (2017) dianalisa secara kualitatif oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan dengan alat ukur tersebut. Aspek yang dievaluasi secara kualitatif dari item-item yaitu sebagai berikut:

1.      Analisis Ahli Konstrak

Felicia, dkk. (2017) meminta penilaian oleh ahli (expert judgment), yaitu dari tiga orang dosen Psikologi Pendidikan Universitas Tarumanagara Jakarta yang sering berkecimpung dalam bidang membaca. Hasil dari penilaian ahli menunjukkan ada 28 butir dari 37 butir yang dianggap sudah mengukur hal yang diukur oleh tiga ahli. Berdasarkan penilaian ahli tersebut, peneliti mendapatkan masukan untuk melakukan revisi butir serta menambahkan butir-butir negatif dalam alat ukur motivasi membaca pada remaja. Selain itu, dosen-dosen memberikan masukan bahwa butir-butir alat ukur perlu disusun dengan lebih bervariasi baik dalam konten maupun pemilihan kata-kata. Namun, peneliti diingatkan untuk tetap konsisten dalam menyusun butir-butir agar mengukur dimensi yang dituju.

2.      Analisis Ahli Psikometri

Felicia, dkk. (2017) tidak meminta tanggapan tentang properti psikometri yang digunakan pada ahli psikologi yang melakukan konstruksi alat ukur tersebut. Namun, peneliti sudah mengikuti saran dari penelitian sebelumnya dan telah mendapat penilaian dari tiga dosen psikologi yang sering melakukan penelitian dibidang membaca.

3.      Analisis Tata Bahasa

Felicia, dkk. (2017) meminta seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang fasih berbahasa Inggris (lulusan doktoral dari universitas di Amerika) untuk menerjemahkan kembali kuesioner tersebut ke dalam bahasa Inggris. Hasil terjemahan bahasa Inggris tersebut dicocokkan dengan butir kuesioner asli, mengalami revisi satu kali, lalu diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris. Setelah itu, hasilnya dicocokkan kembali dengan butir kuesioner asli. Tingkat kecocokkannya tinggi (97,2% dari butir hasil back translation memiliki makna yang sama dengan butir asli kuesioner dalam bahasa Inggris).

4.      Analisis Oleh Subjek

Felicia, dkk. (2017) kemudian menguji validitas muka kuesioner dalam bahasa Indonesia yang telah lolos dalam tahap back to back translation. Uji validitas muka kuesioner ini dilakukan kepada 3 orang siswa SMA X. Peneliti mendapat masukan mengenai pemilihan kata yang sesuai dengan pengetahuan mereka sebagai perwakilan remaja. Selain itu, mereka memberi ide bagi peneliti untuk menyusun kuesioner menjadi lebih mudah dibaca dan dimengerti.

 

 

C.     Analisa Kuantitatif

Setelah analisa kualitatif dan uji coba dilaksanakan, selanjutnya adalah analisa kuantitatif item-item tersebut. Pada penelitian Felicia, dkk. (2017), indeks diskriminasi item dilakukan dengan model korelasi item dengan skor total. Hasil analisis dengan 74 sampel menunjukkan bahwa tingkat reliabilitas dari alat ukur motivasi membaca pada remaja tergolong baik (Cronbach’s Alpha = 0,881). Standar reliabilitas yang digunakan adalah 0,7 (oleh Gliem & Gliem dalam Felicia, dkk., 2017).

Berdasarkan tabel Pearson r dalam Felicia, dkk. (2017), r tabel untuk jumlah sampel 74 orang adalah 0,235. Sementara itu, hasil uji validitas konstruk yang dilihat dari korelasi butir-total menunjukkan terdapat 37 butir yang valid (r < r tabel = 0,235, p < 0,05). Butir yang dibuang berdasarkan uji validitas konstruk ini adalah nomor 3, 5, 12, 17, 28, dan 35. Berikut meupakan tabel 3.1 yang menunjukkan hasil uji reliabilitas pada penelitian tersebut:

Tabel 3.1   Hasil Uji Reliabilitas (37 Butir)

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

1

0,238*

14

0,364*

27

0,398*

2

0,438*

15

0,337*

28

-0,306

3

0,230

16

0,359*

29

0,608*

4

0,494*

17

0,355*

30

0,470*

5

0,102

18

0,590*

31

0,642*

6

0,380*

19

0,360*

32

0,397*

7

0,446*

20

0,348*

33

0,397*

8

0,340*

21

0,443*

34

0,568*

9

0,426*

22

0,685*

35

0,206

10

0,369*

23

0,278*

36

0,630*

11

0,294*

24

0,352*

37

0,510*

12

0,171

25

0,485*



13

0,477*

26

0,377*



*Sumber: Felicia, dkk. (2017).

 

Setelah membuang butir yang tidak valid, peneliti melakukan uji reliabilitas dan validitas kembali. Hasilnya menyatakan bahwa terdapat 32 butir yang ada valid dan reliabel (Cronbach’s Alpha= 0,897). Tabel 3.2 menunjukkan hasil uji reliabilitas dengan 32 butir.

Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas (32 Butir)

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

No. Butir

Korelasi Butir-Total Dikoreksi

1

0,242*

15

0,314*

26

0,363*

2

0,446*

16

0,386*

27

0,423*

4

0,451*

17

0,204

29

0,629*

6

0,377*

18

0,624*

30

0,480*

7

0,481*

19

0,355*

31

0,652*

8

0,351*

20

0,315*

32

0,395*

9

0,437*

21

0,461*

33

0,396*

10

0,337*

22

0,692*

34

0,579*

11

0,247*

23

0,318*

36

0,649*

13

0,480*

24

0,373*

37

0,537*

14

0,383*

25

0,478*

 

 

*        *Sumber: Felicia, dkk. (2017).

 

Kemudian untuk hasil akhirnya, pada tabel 3.3 menunjukkan blueprint kisi-kisi alat ukur motivasi membaca pada remaja yang sudah valid secara konten dan konstruk serta layak untuk digunakan dalam penelitian-penelitian.

Tabel 3.3   Kisi-Kisi Kuesioner Motivasi Membaca pada Remaja yang Sudah Valid

Dimensi

Butir Alat Ukur

Total

 

Positif

Negatif

 

Rasa Ingin Tahu

1, 8, 15, 20

23, 30

6

Keterlibatan

2, 9, 16, 21

24, 31

6

Nilai Akademik

10

25, 32

3

Kompetisi

4, 11

26, 33

4

Pengakuan Sosial

-

27, 34, 37

3

Regulasi Emosi

6, 13, 18, 22

-

4

Bebas dari Kebosanan

7, 14, 19

29, 36

5

Total Butir

18

13

31

              *Sumber: Felicia, dkk. (2017).

 

 


SUMBER REFERENSI

 

Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan Validitas. Cetakan IX. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Felicia, Mularsih, H., & Tiatri, S. (2017).  Pengembangan alat ukur motivasi membaca pada remaja. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni. 1(2). 248-258. https://journal.untar.ac.id/index.php/jmishumsen/article/download/973/922. Diakses pada 9 April 2020. 20:01 WIB.

Huang, H. (2013). Analisis Item. Artikel Online. Homepages. https://www.globalstatistik.com/analisis-item/. Diakses pada 9 April 2020. 20:30 WIB.

VALIDITAS

Untuk membuktikan keberadaan atribut psikologi , diperlukan suatu pengukuran yang tepat. Pengukuran yang tepat akan menghasilkan skor yang...